Jawabku..

Aku bukanlah seorang yang bernyali besar. Aku bukan juga sang pencinta alam, ilmuku belum sampai untuk kategori tersebut. Aku bukan pula sang penakluk alam. Aku suka jalan-jalan. Dan aku hanya sekumpulan tanah yang akan kembali ke tanah.

“Untuk apa kamu traveling?” Tanya segelintiran orang padaku.

Aku pun tak tau apa yg kucari. Sepintas aku hanya ingin merasakan ketulusan alam. Jauh dari kepalsuan dunia sana. Berteman dengan alam bebas, bersenandungkan suara alam dan makhluk lainnya,syahdu.

“Traveling itu kan menguras energi dan materi.” Lanjutnya.

Iya itu benar. Tapi bagiku, energi bisa dipulihkan dan materi msh bisa dicari. Ketenangan alam liar dan ketulusan alam yg seakan memanggilku untuk mengunjungi-nya lagi.

“Apa kamu tidak cape?” Tambahnya.

Cape? Aku tersenyum. Aku tak pernah tau sampai dimana kaki ku akan membawaku melangkah. Melewati jalan setapak, hutan rimba, jurang yg dalam, bahkan tanjakan curam. Aku tak pernah tau akan berhenti dimana, nantinya. Tapi yg aku tau, sampai dimana batas kemampuan ku untuk melangkah.

Pertanyaan lainnyapun muncul, “Lantas, apa untungnya bagi mereka?” 

Senyum kecilku pun keluar (lagi). Seraya aku menjawab, entahlah untungnya bagi mereka untuk apa dan ditafsirkannya seperti apa. Aku hanya ingin ‘mengajarkan’ kepada mereka bahwa dengan ‘berjalan’ mereka akan mengetahui banyak hal. Entah itu pengetahuan sosial, entah itu pengalaman hidup, yang jelas dengan berjalan aku mendapatkan banyak hal kehidupan. Contoh; ketika mendaki, semua itu memang sulit untuk dilalui. Jalur terjal, mungkin juga ada binatang buas,  karena tidak ada mendaki gunung, begitu start kita langsung sampai dipuncak gunung tersebut. Semua itu butuh pengorbanan dan perjuangan bukan? Sangat melelahkan bukan? Coba deh kalian kaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Anggap saja kalian sedang menjalankan kehidupan sehari-hari, tapi dengan kondisi medan yang berbeda. Itu pasti bakalan menyenangkan🙂

Terkait dengan kegiatan ‘berjalan’, apakah kalian sudah mengetahui langkah pertama sebelum memulainya? Kalau saya pribadi, sebelum kita ‘berjalan’, pastikan mau kemana langkah kaki yang ingin dituju. Itu sangat penting. Kalau kita berjalan tidak ada tujuan, buat apa? Alangkah baiknya kalau kita sudah memantapkan tujuan kita terlebih dahulu. Setelah itu, cari informasi tentang tujuan kita tersebut. Tidak dipungkiri, banyak catatan perjalanan yang bisa dijadikan referensi untuk kita sebelum kita memulai ‘berjalan’. Jangan terpaku karena kita ‘perdana’ melakukannya, sayapun kadang melakukan perjalanan perdana. Tapi ya sebelum itu saya mencari informasi tentang kemana tujuan saya. Selain mencari informasi dari catatan perjalanan orang lain, kita juga bisa menanyakan kepada teman-teman kita yang sudah pernah melakukan perjalanan ke daerah tersebut. Jangan cuma sekedar mengandalkan ‘smartphone’ sebagai GPS berjalan, tapi kita juga punya acuan sendiri sebelum melakukan perjalanan. Jangan takut ataupun sungkan ketika ingin bertanya kepada yang sudah pernah melakukan perjalanan kesana. Berikan kesan ramah ketika bertanya. Mau dijawab ketus ataupun singkat, setidaknya ada informasi yang kita dapatkan dari mereka  :-)

Alam tidak pernah ingkar dengan keindahannya, khususnya alam Indonesia. Begitu banyak pemandangan indah yang bisa kita nikmati. Mulai dari pemandangan pegunungan, pemandangan sepanjang pantai, hangatnya deburan ombak, ah sungguh indah jika dilewatkan begitu saja. Semua ketulusan alam tersebut bisa kita dapat dan nikmati jika kita mau berusaha dan tetap menjaganya.

Semeru (48) Semeru (61)

Salah satu ketulusan alam, Bunga Edelweiss Gn.Semeru September 2012 (Foto by Noverdi Anggara)

IMG_1993

Bunga Edelweis Mt.Papandayan, Juni 2013 (Foto by Muhammad Julindra)

IMG-20130701-WA001

View top of Mt.Papandayan, Juni 2013 (Foto by Aria Firmansyah)

Tidak jarang, banyak wisatawan lokal ataupun interlokal yang membuang sampah sembarangan. Sangat prihatin. Jika sudah kotor, apa nikmat untuk dipandang? SANGAT TIDAK! Jika sulit melakukan hal besar, lakukanlah dari hal kecil dahulu, sampah pribadi misalnya. Sudahkah kita membuang sampah pada tempatnya? Kesadaran diri yang menjadi kunci utama. Tidak jarang saya melihat orang membuang sampah seenaknya dipinggir jalan. Hell-o??!! Itu jalanan kali, bukan tempat sampah! Errrrr.. Jangan sungkan untuk ‘menegur’ ketika kita melihat ada orang buang sampah sembarangan. Saya pribadi pun, bukannya tidak pernah ditegur akan hal tsb. Pernah sewaktu saya melakukan pendakian ke Semeru, saya berniat meninggalkan sampah pribadi kelompok saya karena begitu banyak dan beratnya itu sampah. Tapi berkat teguran dan kesadaran akan ‘Gunung bukan tempat sampah’ sayapun akhirnya membawa sampah tersebut. Kalau bukan kita yang membawa itu sampah, siapa lagi? Orang lain yang mau membawanya? Berani bayar berapa?😛 Mari peduli dengan sampah🙂

Semeru (581)

Ini bentuk nyata bahwa kami peduli dengan sampah…

Terkadang kita harus bertunduk sesaat, untuk menegakkan kepala kita. Sejenak memperhatikan langkah kaki yang terus berjalaan. Terkadang, kita harus menoleh ke kanan dan ke kiri sesaat, untuk melihat sekililing kita. Sejenak mendengar sapaan hangat bahkan senyuman dari orang sekitar kita. Terkadang, kita harus menoleh ke belakang sesaat, untuk melihat sudah sejauh mana kita berjalan, sebelum menentukan araha tujuan selanjutnya.

Aku seorang penggembala yang senang menggembalakan diriku sendiri. Tak peduli seberapa jauh langkah kaki ku, tak peduli berapa banyak waktu yang aku keluarkan. Aku seorang pejalan yang senang bertegur sapa kehangatan. Tak peduli siapa kalian atau mereka, yang aku inginkan hanya sebuah senyuman dan sapaan hangat dari kalian atau mereka. Aku seorang penikmat keringat dengan caraku sendiri. Tak peduli seberapa derasnya mengalir ditubuh ini. “Lantas apa tujuanmu?” Tujuanku cuma satu, mencari pelajaran hidup yang tak ada dibangku sekolah, dan itu hanya ada dikehidupan ‘nyata’.

 

 

Ini adalah aku, aku yang mencoba untuk terus menikmati hidup dengan caraku sendiri.

– Muhammad Julindra

Tambahan:

Semua foto ditulisan ini koleksi pribadi dari kamera saya dan beberapa teman saya yang berpartisipasi dalam perjalanan tersebut🙂

7 thoughts on “Jawabku..

  1. Pingback: #NubieTraveler Monthly Blog Competition: “The 1st Step” | TravellersID

  2. Gue termasuk orang yang gak suka sama mereka, para pendaki instant, yang pengen naek gunung dengan semangat pergi ke mall. Satu yang gue khawatir-in, n semoga cuma jadi kekhawatiran semata;

    – mereka cuma ngejer naik gunung, buat nge-eksis di poto2
    – gak peduli sama kebersihan air danau, cuci dan mandi seenak udel seperti “imam” mereka, para tokoh 5cm yang meloncat di Ranu Kumbolo
    – boker gak pake mikir, kebelet dan buang di mana aja. Asal gak ada yang liat, tanpa menutup atau memberi tanda, apalagi menggali-menutup lubang
    – abis kenyang, ampas dibuang. Sampah di mana aja. Ntar klo ke-gap buang sampah, paling buang muka atau ngeyel balik. Pathetic.

    Sekali lagi. semoga ini cuma kekhawatiran gue semata dan gak bener2 (banyak) terjadi

    • Aamin.. Semoga kita bisa sama-sama bisa menjaga dan memberitahu bahkan memberi contoh ke yang lain agar melestarikan atau setidaknya tidak membuang sampah ‘pribadi’ sembarangan..

  3. Pingback: Pemenang #NubieTraveller Monthly Blog Competition: “The 1st Step” | TravellersID

  4. Pingback: Pemenang #NubieTraveller Monthly Blog Competition: “The 1st Step” | TravellersID

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s