Papandayan dan Segala Keindahannya

Oke saatnya berbagi cerita lagi, dan kali ini masih tentang pendakian. Jangan pada bosen bacanya yak. Karena akupun masih belum bosan dengan kegiatan ini. Aku memang sangat suka menikmati sunset dan sunrise, maka tak jarang aku lebih naik gunung ataupun ke pantai ketimbang ke mall. Hihihi. Kebetulan aku masih tertarik dengan kegiatan ini. Alhamdulillah🙂 Kali ini aku ingin bercerita tentang pendakian ku ke Gunung Papandayan, Jawa Barat.
Gunung Papandayan terletak di derah Garut,Jawa Barat dengan ketinggian 2665 mdpl. Salah satu gunung dengan tingkat ketinggian masih terbilang rendah (menurutku), tapi tidak mengurangi pengalaman dan keindahannya.Sebenernya pendakian ini sudah direncanakan dari bulan Mei 2013, tapi berhubung status Gunung Papandayan yang masih meningkat kala itu, alhasil kami memutuskan untuk menunda pendakian. Dan baru direalisasikan pada akhir bulan Juni 2013 kemarin. Berawal dari si Ical dan Arya yang ngebet untuk kesana, akhirnya aku pun bersedia menenaminya.

Rabu, 26 Juni 2013
Melalui sebuah pesan singkat gua dan Ical bercengkarama untuk ngebahas pendakian ini. Dan keputusannya kami berangkat weekend pada minggu tersebut, tepatnya tgl 28-30 Juni 2013. Sekalian jadi ajang pendakian sebelum bulan Ramadhan. Setelah ngobrol ngalur ngidul,dan ngeracunin beberapa teman yang lain, akhirnya diputuskan yg berangkat 5 orang. Gua, Ical, Arya, Aryo dan Novi. Pembagian peralatan dan segala teknis keberangkatan semuanya diserahin ke gua. Okeeh, ini memang bagian gua, mungkin karena gua udah pernah kesana, merekapun nyerahin ke gua untuk teknis pendakian. Alhamdulillah, gua masih bisa dipercaya untuk tugas tersebut🙂 Keesokan harinya, Maya mengkonfirmasi untuk ikut dalam pendakian. Well, dengan senang hati nambah personil dalam pendakian. Dan ada tambahan 3 orang lainnya yg kebetulan pengen gabung, Tatoy, Ican dan Iyan. Semuanya konfirmasi melalui social media. Memang kebetulan kala itu, gua ngeshare mau melakukan pendakian ke twitter dan mengajak bareng bagi yang lain🙂 Teknis pendakian sudah dibuat, dan akhirnya kami memutuskan untuk titik kumpun bertemu di Terminal Kp.Rambutan jam 22.00 WIB. Karena setahu gua, bis terakhir ke Garut itu masih ada sampai jam 00.00-01.00 WIB.

Jumat, 28 Juni 2013
Waktu yg dinanti akhirnya tiba. Tapi ya tetep sampai pukul 20.00 WIB gua baru mulai packing. Hahahaha. Beberapa anggota tim yang lain sudah mulai konfirmasi posisinya masing-masing. Gua pun makin ngebut packingnya. Tapi jangan asal packing ya. Bisa si asal packing, asal pas mau start pendakian dipacking ulang, biar beban yg dibawapun seimbang🙂
21.00 WIB, gua berangkat dari Tanjung Priuk dengan Bus Transjakarta. Maya yg sudah ‘bawel’ nge-sms karena dia udah sampai di Terminal Kp.Rambutan. Selang sejam kemudian, akhirnya gua sampai di Terminal Kp.Rambutan dan ketemu Maya. Setengah jam berselang, Tatoy, Ican dan Ian tiba. Kamipun ngobrol sambil ngopi-ngopi santai sambil nunggu yang lain. Di Kp.Rambutan kamipun bertemu dengan beberapa pendaki yg ingin bertualang ke gunung lain. Dan tak jarang, kami mengenali dan bertegur sapa serta bertukar senyuman hangat. Memang, di Terminal Kp.Rambutan merupakan titik kumpul para pendaki yg ingin berteluang, jadi kamipun ga canggung untuk bertegur sapa bahkan pernah bertualang bareng ditujuan yg sama🙂 Pukul 00.00 WIB Ical, Aryo, dan Arya sampai juga di Terminal Kp.Rambutan. Tiga bis menuju Garut sudah terlewati. Well, alhasil kamipun menunggu bis yg lainnya. Canda tawa menemani kala itu. Ya, mereka ini merupakan teman-teman yang sering berpergian bareng sama gua, jadi kalo ketemu lagi obrolan tentang pendakian sebelumnya pun masih melekat jadi topik malam itu. Gelas kopi semakin berkurang isinya, waktu udah menunjukan pukul 02.00 WIB dan fix udah ga ada lagi bis yg menuju Garut malam itu. Kamipun bergegas pindah ke parkiran bis, guna menanyakan keberangkatan esok pagi. Sambil menunggu, kamipun tidur sejenak dipelataran terminal. Jujur, ini kali pertama gua tidur di Terminal. Dan gua sangat menikmatinya =))

Terminal

Sabtu, 29 Juni 2013
Adzan subuh sudah berkumandang, gua jadi orang pertama bangun dan menanyakan kondektur bus. Bus berangkat pukul 06.00 WIB. Bergegas gua bangunin teman-teman yg lain. Selang sejam, kamipun mulai menaruh bawaan kami kedalam bagasi bis, dan naik kedalam bis. Tepart pukul 06.00 WIB bis berangkat mengantarkan kami dari Terminal Kp.Rambutan menuju Terminal Guntur, Garut, Jawa Barat. Dan saat itupula waktu yg tepat untuk melanjutkan tidur~
Hampir 3 jam perjalanan, bis kami masih tertahan di jalur Nagreg. Jalur Nagreg tidak bersahat kala itu, padatnya volume kendaran membuat kami melesat jauh dari perhitungan jam kedatangan. Ical pun mengabari Novi untuk memperlambat keberangkatannya menjadi siang dan ketemu di terminal Guntur pukul 11.00 WIB. Oiya, Novi itu tinggal di Bandung dan dia berangkat dari Bandung sampai akhirnya tikum di terminal Guntur. Well, tepat pukul 11.15 WIB kami tiba di terminal Guntur, selang 15 menit Novi pun tiba. Gua pun langsung nego angkot untuk mengantarkan kami ke pertigaan Cisurupan yg menjadi titik pendakian. Nego ngalur ngidul, akhirnya menemui kesepakatan. Carrier pun udah mulai diangkut ke atas angkot dan kami siap melanjutkan perjalanan. Perjalanan dari terminal Guntur menuju pertigaan Cisurupan itu memakan waktu 40 menit hingga 1 jam. Setelah sampai dipertigaan Cisurupan, kamipun bergegas ke swalayan guna memenuhi kebutuhan logistik pendakian. Dari pertigaan Cisurupan menuju ke pos perijinan, kita harus menyewa mobil bak terbuka atau ojek. Kalo 5-6 orang, kita wajib naik mobil bak terbuka. Kalo kurang dari itu, kita harus naik ojek. Itu udah jadi peraturan disana. Nego ngalur ngidul kembali terjadi pas mau naik mobil terbuka, disini gua yg kekeh dengan harga gua. Soalnya gua tau pasaran harga mobil bak disana. Ngalur ngidul 30 menit, akhirnya kita sepakat. Dan sebelum berangkat, kami ketemu rombongan lain 2 orang. Sebelumnya gua ketemu mereka di terminal Guntur, tapi karena gua kira mereka berada diluar terminal kala itu, jd gua ga sempet ngobrol lama. Dan pas mereka gua ajakin bareng, ternyata ga bisa. Soalnya dia udah di ‘take’ duluan sama ojek. Oke. akhirnya kamipun bergegas melanjutkan ke pos perijinan. Sepanjang jalur dari pertigaan Cisurupan ke atas itu memakan waktu 30 menit – 40 menit, dengan jalur yang tidak begitu bersahabat. Banyak lubang, dan lubangnya pun lumayan dalam😐

Papandayaaaaan (20)

Papandayaaaaan (26)

Papandayaaaaan (17)
Selang setegah jam, kamipun sampai di pos perijinan. Sebagiam yg lain menuruni bawaan dari mobil bak, dan gua ngurus perijinan ke pihak Perhutani. Di pos perijinan, gua ketemu sama 2 orang yg tadi ketemu dibawah. Bang Abun dan Bang Tompel namanya. Kebetulan mereka baru pertama kali ke Papandayan, akhirnya gua menawarkan untuk gabung, dan merekapun menyutujuinya. Total 11 orang kami berangkat. Pukul 15.00 WIB kami selesai packing dan bergegas mulai pendakian. Cuaca disekitar kabut. Daaaaan… hujan turun dengan derasnya. Kamipun menunda keberangkatan kami sambil nunggu hujan reda. Sebatang rokok dan teh anget yg menemani kali ini. Selang satu jam kemudian, hujanpun reda. Tepat pukul 16.00 WIB kami start pendakian dengan posisi gua yg didepan sebagai leader. Papandayan punya daya tarik tersendiri di Tegal Alun dan Hutan Matinya. Bahkan kawahnya pun ga kalah menantang. 20 menit berjalan, kamipun melalui kawah. Dan kala itu kawah masih sangat panas. Iya, walaupun statusnya sudah turun, kami harus tetap waspada akan panasnya kawah tersebut dan bau belerang yg masih sangat nyengat. Sedari awal gua udah ngasih tau ke rombongan agar berjalan agak cepat ketika dikawah. Gua pun berjalan cepat ketika dikawah, diikuti Bang Abun dan Bang Tompel dibelakang. Sampai di tempat yg lebih aman,gua pun bergegas istirahat sebentar. Dan melihat kebelakang, ternyata Ical,Arya,Aryo,Novi dan Maya masih asik foto-foto disekitar kawah. Hayaaaaaah -_____-
Pendakian kali ini, gua ngambil jalur meipir ke punggungan sebelum masuk ke Pondok Salada. Tempat dimana buat ngecamp nanti malam. Setelah selesai mendokumentasikan perjalanan, kamipun melanjutkan pendakian. Waktu sudah menunjukan pukul 17.00 WIB, dan kekhawatiran gua cuma satu kala itu, ga kebagian lapak ngecamp di Pondok Salada. Well, benar kaaaaaan!

556886_501261479895789_796506765_n

Papandayaaaaan (32)

Papandayaaaaan (34)

Pukul 18.00 WIB kami sampai di Pondok Salada, disini sudah ramai pendaki lain yg sudah tiba lebih awal. Kamipun kehilangan beberapa spot yg enak buat ngecamp dan mencari spot lain buat ngecamp. Semua peralatan tenda sudah dikeluarkan, dan tendapun mulai digelar. And you know what? Dari 11 orang, kamipun menggelar 4 tenda. 1 Tenda kapasitas 2 orang dan 3 tenda kapasitas 4-5 orang. Gilaaaak! Bakalan tidur nyenyak nih gua karna didalem tenda bakalan lega banget. Hahahaha. Tadinya kami pengen gelar 3 tenda saja, tapi dipikir-pikir daripada cape bawa-bawa tenda ga dipake, akhirnya kami gelar semua tenda dengan berbentuk meligkar seperti huruf U. Heuheuheu
Malam semakin larut, kamipun mulai bikin perapian buat masak dan makan malam. Kokinya siapa? Kali ini Maya, Novi, Tatoy dan Ican yg jadi koki. Ical, Arya, Aryo, Bang Abun dan Bang Tompel ngobrol santai sambil ngopi disekitaran tenda. Gua? Gua masuk tenda buat tidur sebentar. Hahahahaha =))

Papandayan (21)
Selang sejam, makanan sudah siap. Sayur sop, Ikan asin, Empal, dan Nasi gosong karya Novi + Maya siap disantap. Entah kenapa begitu nikmat rasanya. Sambil nunggu nasi liwet karya Tatoy+Ican, kami menyantap nasi gosong tersebut. Selesai makan malam, kamipun hanyut kedalam kehangatan suasana tenda kala itu. Ngobrol santai dan Ical mulai ngeluarin teknik ngebanyolnya. Disisi tenda lain, Maya, Novi dan Gua ngecurcol dari dalem tenda. Hahahaha =))
Kala itu malam lagi cerah, bagus banget! Subhanallah! Sambil menghangatkan tubuh, gua memandangi langit dan melihat bintang yg berkilau sangat indah dan setia menemani bulan. Aaah indahnya, sayang kamu tidak ikut. Eyaaaaaaa melankolis berujung galau.Hahahaha =))
Waktu sudah semakin larut, gua pun masuk tenda sama Maya, Novi dan Ical. Dan bersiap istirahat malam itu. Selamat malam, Pondok Salada🙂

Minggu, 30 Juni 2013
Kabut pagi masih memelukku dengan dinginnya dari balik tenda. Sapaan hangat ‘selamat pagi’ sudah mulai terdengar dari para pendaki lain. Mereka sudah bangun dari tidur lelapnya dan bersiap menikmati sunrise di Pondok Salada ataupun Tegal Alun. Rombongan kamipun sudah bersiap menikmatinya juga. Semua sudah siap, kecuali Maya yang mengurungkan niat untuk summit ke puncak Papandayan. Gua yg tadinya siap, kembali mengurungkan niat buat summit. Mungkin karena gua sudah pernah summit Papandayan, jadinya agak malas. Dan kebetulan sinus kambuh kala itu. Sedari awal perjalanan, memang badan gua sempet demam pas jumat pagi, tapi gua tetep memutuskan berangkat ke Papandayan. Akhirnya, rombongan yang lain pun tetap muncak, dengan Novi sebagai navigatornya. Novi memang sudha pernah summit Papandayan beberapa bulan yang lalu sama gua. Alhasil dia pula yg gua ‘tumbalin’ buat jadi navigator rombongan buat summit. Hahahaha.

Pukul 05.00 WIB rombongan sudah pada bergegas menuju puncak. Gua dan Maya ngedokem dibalik tenda melanjutkan tidur. Heuheuheu. Selang setengah jam kemudian, gua benar-benar terbangun dan mulai masak air, buat bikin kopi sambil menikmati sunrise dari Pondok Salada. Maya, mulai sibuk nyiapin logistik yang mau dimasak kala itu. Tidak lama, Bang Lion datang menghampiri, tetangga sebelah tenda yg ikut gabung ngopi bareng sambil ngobrol ngalur ngidul.

Kopi sudah habis dan sekarang waktunya masaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!! \m/ Kali ini gua dan Maya yg jadi kokinya. Dengan memperhitungkan waktu rombongan summit dan balik lagi, gua pun mulai masak puul 07.00 WIB. Bongkar sana, bongkar sini. Pilah pilih logistik yang bakal diolah. Akhirnya, gua pilih Spagetti (tulisannya salah biarin aja :p), telur + kornet a.k.a omelet karya Maya, ikan asin, sarden dan empal. Pokoknya sisa logistik kala itu, gua masak semua. Karena gua ga mau bawa turun lagi logistik tersebut. Oiya, Nutri Jell + Cocktail pun diolah jadi hidangan penutup. Dimulai dengan ngerebus spagetti, lanjut bikin omelet. Dan kejadian bodoh pun terjadi. Errmmmm.. Jadi, sewaktu mau bikin omelet, gua salah naro minyak sayur ke dalem nesting. Bukannya minyak sayur yg gua panasin, malah minyak tanah😐 Alhasil ngebuuuul nesting gua. Hahahaha -____- Skip! Ngebersihin nesting lagi, dan mulai dengan minyak sayur yg baru. Selang beberapa jam, semua hidangan sudah siap disantap. Tapi ya kenapa rombongan gua belom pada turun? Kalian ga pada laper apa? Gua udah kelaperan men! -____-

Satu jam berselang, dua jam berlalu dan tiga jam kemudian… Rombongan masih belum menampakkan batang hidungnya. Perut gua makin terasa laper walaupun gua udah makan (duluan) dengan bikin mie instan. Bosen juga kelamaan nunggu, akhirnya gua keluarin matras dari dalem tenda + bantal tiup. Dan akhirnya berjemur di Pondok Salada (biar disangka kaya bule-bule. Bule-petan, Iya😐 ). Tepat pukul 11.00 WIB, rombongan akhirnya sampe juga. Alhamdulillah, akhirnya bisa makan juga. Spagetti, omelet, nutri jell langsung abis seketika. Pada kelaperan kayanya😐

Papandayan (28)Papandayan (28)

Papandayan (108)

Papandayan (12)

Sesuai rencana kemarin, kita turun sekitar jam 13.00 WIB, guna ngejar bis ke Jakarta pukul 18.00 WIB. Selesai makan, waktunya beberes peralatan makan. Hmm bagian ini nih yg sangat disayangkan. Ketika gua lagi nyuci nesting, tampak masih banyak yg menggunakan deterjen. Entah itu buat nyuci nesting ataupun untuk menyikat gigi. Sampah plastik pun begitu terlihat disekitar lokasi. Haaaaah entah ini siapa yang salah dan siapa yang harus disalahkan(?) Tanpa mikir yg terlalu panjang yg ada malah bikin emosi, gua pun melanjutkan cuci nesting gua. Dan melanjutkan packing sebelum pulang. Pas lagi packing, gua ketemu Aziz. Salah satu teman gua, ketemu karena hobi. Dan ga nyangka ketemunya disini. Heuheuheuheu

Tepat pukul 13.00 WIB, kami berdoa dan mengeluarkan beberapa curahan hati-ciegitu- tentang pendakian kali ini. Tidak tertuju pada satu orang, semua rombongan mengeluarkan opininya masing-masing dilanjutkan berdoa bersama dan bergegas cabut. Untuk rute pulang, kami tidak melalui jalur yg kemarin, tetapi melipir Pondok Salada menuju Hutan Mati dan melewati jalur terjal dan bebatu pinggiran kawah. Selang beberapa saat, kami tiba di Hutan Mati. Lu harus tau men! Pemandangannya kereeeeeeen broooooooooooo!!!-norak-bodo amat-biarin- Tak lupa kegenitan lensa pun keluar mengambil dokumentasi keindahan di Hutan Mati. Pose-pose tjiamik mulai keluar dari rombongan kami. Termasuk gua!-tetep narsis-ga mau ketinggalan- 40 menit berlalu dan dihabiskan untuk berfoto-foto ria, kamipun melanjutkan sisa perjalanan. Lebih kurang 1 jam lagi perjalanan sampai pada pos perijinan. Diiringi celetukan dari para pendaki lain, tak terasa kamipun tiba di pos perijinan. Dan beberapa meter sebelum sampai, gua sempet ketemu wisatawan asing, perempuan pula :3 Lupa dia berasal darimana, yg jelas gua sempat ngobrol sama dia tentang Papandayan. Dan beberapa gunung lainnya yg ada di Indonesia. Kira-kira seperti ini pertanyaan gua, “Bagaimana menurut Anda tentang Gn.Papandayan?” Dia jawab, “Ini sangat keren. Dengan pemandangan kawah yg begitu dekat dan masih sangat panas, ini sangat keren. Saya sangat menikmatinya.” Gua tanya lagi, “Apa ada rencana berkunjung kesini lagi?”. Dia jawab, “Oh tentu pasti. Tapi setelah urusan saya di Jakarta selesai, saya akan berkunjung ke lain tempat dahulu. Bromo atau Semeru menjadi target saya selanjutnya.” Gua jawab. “Wooow! Keren!” Akhirnya gua pun menyudahi obrolan gua dgn turis tersebut dan melanjutkan bersih-bersih sebelum balik ke Jakarta. Ah rasanya masih kurang kalo cuma semalam disini. Keheningan malam di Pondok Salada, keindahan mekarnya Edelweis di Tegal Alun, bahkan ‘gunung rasa pantainya’ Hutan Mati :’)

IMG_2030 IMG_2032 IMG_2040 IMG_2041

IMG_2040

IMG_2032

IMG_2030

14.30 WIB akhirnya kita sampai dicamp perijinan. Aku langsung masuk kantor perijinan guna lapor selesai kegiatan pendakian. Teman-teman yang lain, sibuk membersihkan diri dan packing buat balik ke Jakarta. Akupun mengestimasikan sampai pukul 15.30 WIB untuk cabut ke terminal Guntur dan balik ke Jakarta. Alhamdulillahnya semua berjalan lancar. Setelah nego mobil bak terbuka, kamipun melanjutkan perjalanan pulang dianter pake mobil baknya Abah-salah satu pemilik mobil bak-. Aku duduk didepan sambil Abah sambil ngobrol, kita bercerita keadaan sekitar sini. Sementara yg lain, kayanya sedang asik ngobrol sambil merencakan perjalanan selanjutnya. Ya, kami memang seperti itu, ketika selesai pendakian pasti merencakan pendakian selanjutnya. Istilah pepatahnya, “Berpisah sementara untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.” Sembari memainkan pedal gas,rem dan kopling, akupun tetap melanjutkan obrolanku dengan Abah. Untuk umuran Abah, beliau sangat lihai dalam memainkan tiga pedal tersebut. Akupun luput dengan waktu sampai tak terasa tiba diterminal Guntur. Bis Primajasa sudah menanti kami untuk balik ke Jakarta. Kamipun berpisah sementara dengan Novi yg memang tinggal di Bandung ditemani si Ical yg masih ingin bertualang di Bandung. Baiklah, jabat tangan dan senyuman hangat tak lupa disematkan ke temanku tersebut. Sambil mengisyaratkan perjalanan selanjutnya.

18.00 WIB bis Primajasa sudah melaju keluar terminal dan bersiap mengantarkan kami ke Jakarta. Estimasiku pada waktu itu sekitar 4-5 jam perjalanan, dengan kata lain, jam 23.00 ataupun 24.00 aku sampai di Pasar Rebo. Disebelahku Maya sudah mengambil posisi untuk tidur, akupun sudah sayup-sayup dan bersiap tidur. Tak lama berselang akupun tertidur pulas~
Sudah berganti-ganti posisi tidur, akupun terbangun pukul 22.00 WIB. Aku kira sudah sampai di tol Cikampek, ternyata belum😐 Masuk tol Cipularang saja pun belum. Jalur Nagrek kala itu sangat tidak bersahabat. Perkiraan ku meleset jauh. Bus sudah penuh sesak dengan penumpang lain yang berdiri. Merekapun sama sepertiku, sudah berganti-ganti gaya untuk tidur, sampai akhirnya bosan sendiri untuk tidur. Disebelahku Maya, masih tertidur pulas tanpa dosa. Enak bener kayanya nih orang. Akupun memperhatikan sekelilingku. Raut wajah penumpang yg sudah nampak ‘badmood’ dengan kemacetan tersebut sama sepertiku. Satu jam berlalu, dua jam berlalu, tiga jam berlalu dan berjam-jam kemudianpun berlalu dan kami masih ditemani dengan kemacetan. Tidaaaaaaaaaaaak! Otak udah stres, pengen ke smoking area pun sudah susah. Akupun hanya menikmati malam didalam bus, sambil menanti kemacetan ini terurai. Pukul 03.00 WIB, akhirnya bis kamipun keluar dari kemacetan. Ah gilak! Ini sangking banyaknya kendaraan jadi kaya gini😐 Problema negara-negara berkembang pikirku. Tak berselang lama, tibalah aku di Pasar Rebo, tepat pukul 04.50 WIB kala itu. Akupun berpisah lagi dengan rombongan ku yg lain, karena mereka turun di terminal Lebak Bulus. Jabat tangan dan senyuman hangat tidak lupa kami sematkan. Sambil berkata, “Bertualang kemana lagi kita?”

page2

page2

Papandayan (106)

IMG_1993

page3

page

page4

Papandayan (86)

Dari ber-6, jadi ber-9, jadi ber-11,jadi ber12 (pulangnya), jadinya beramai-ramai.
Terima kasih gemerlap bintang yg kau suguhkan.
Terima kasih kecerian yg kau berikan.
Terima kasih kehangatan kalian.
Terima kasih curhat kegalauan dalam tenda.
Terima kasih kelapangan didalam tenda.
Terima kasih makanan yg kelebihan.
Terima kasih semerbak harum belerang.
Terima kasih 12 jam perjalanan pulang.
Terima kasih Aki losbak.
Terima kasih tetangga tenda.
Terima kasih, Papandayan. Tak pernah sekalipun aku meragukanmu🙂

– Catatan tambahan;
1. Ongkos bis Jakarta-Garut; Rp. 42.000
2. Ongkos angkot Terminal Guntur-Pertigaan Cisurupan; Rp.80.000
3. Ongkos mobil bak terbuka; Rp.120.000
4. Perijinan Perhutani; Rp.6000/orang
5. Sumbangan sukarela pos perijinan; Seikhlasnya

* Foto-foto merupakan koleksi pribadi pada saat pendakian

3 thoughts on “Papandayan dan Segala Keindahannya

  1. Pingback: 5 Tempat Favorit Para Pendaki Gunung Papandayan | Blog Pikavia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s