Menantikan Pulang

20 November 2013, 06.30 WITA, Bali.

“Setiap perjalanan selalu memiliki tujuan. Dan tujuan utama ku dalam setiap perjalanan adalah Pulang.”

     Akhirnya, waktu yang dinantikan tiba, setelah serangkaian perjalananku bulan ini. Sudah tak sabar rasanya menyambut Ibu Kota pada saat itu. Bertemu (kembali) dengan keluarga dirumah, teman-teman dan juga kekasih. Merekapun sudah tak sabar untuk menyambutku dirumah. Bunyi notifikasi telfon genggam ku seraya sedang memainkan parade music. Beberapa pesan masuk secara bergantian menanyakan, “Kapan kamu pulang?”, “Kamu pesawat jam berapa?”, “Kamu sampai Jakarta jam berapa?”. Seperti itulah isi pesan singkat dari Ibu, Kakak, dan Kekasih. Mungkin mereka sudah rindu akan senyumku dan menantikan cerita perjalanan dariku. Sudah sepuluh hari aku meninggalkan mereka sesaat untuk melakukan misi perjalananku bulan ini. Gunung Rinjani adalah tujuanku pada perjalanan ini. Dan Alhamdulillah bisa dikatakan misi ku berhasil. Menikmati sensasi pesona alam Gunung Rinjani dan bangunan-bangunan khas Lombok, Masjid. Lombok memang terkenal akan Kota Seribu Masjidnya. Dan memang indah, Kawan! Subhanallah Walhamdulillah… Rasa syukurku bisa menikmati keindahan tersebut.

     Ditemani kopi dan sebatang tembakau yang terbakar, aku menikmati sapaan pagi di kota Dewata. Pagi itu, Bali diselimuti awan sejak pagi. Hangatnya matahari tak nampak. Pertanda hujan akan menemani langkahku pulang sore nanti. Tapi, aku tidak kehilangan kehangatan kekeluargaan pagi itu berkat pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke telefon genggamku. Satu jam berlalu, matahari tak kunjung menampakan batang hidungnya. Kopi yang terisi penuh, sudah mulai menyusut perlahan. Mengisyaratkan aku untuk segera beralih merapikan perlengkapanku yang hendak dibawa pulang. Satu buah carrier dan daypack sudah menanti untuk diisi kembali perlengkapan. Akupun bergegas ke dalam untuk merapikan perlengkapanku. Masukin-keluarin. Itulah seni dalam mempacking. Semua sisi harus terisi padat sampai tak ada celah yang kosong. Barang-barang dibagi ke dalam carrier dan daypack, gunanya agar tidak kena denda kelebihan bagasi.

20 November 2013, 18.30 WITA, Bali.

“Semoga hujan ini tidak menjadi penghalang untuk aku pulang.”

     Sebuah kalimat yang terlintas dalam benakku saat itu. Hujan turun begitu derasnya. Semua barang-barang sudah dikemas dengan rapi. Dua buah sepeda motor beserta temanku sudah siap mengantarkan aku dan Ical (teman seperjalananku kali itu) ke Bandara. Pesawatku terjadwal 20.45 WITA. Bukan mereda, malah makin deras hujan turunnya. Mau tidak mau kami menerobos hujan lebat saat itu. Raincoat menjadi amunisi tambahan dan kami melaju dengan ngebut menyusuri jalanan kota Dewata yang cukup padat petang itu. Satu kekhawatiranku saat itu, telat check in dan tidak bisa pulang. Tidak peduli hujan lebat, kami terus melaju dengan cepat. Nyelip disela-sela kendaraan yang padat, mencari ruang yang bisa kami lalui agar kami terus melaju. Hmm.. Bali ternyata macet juga loh seperti Jakarta (walaupun tidak separah Jakarta). Hampir satu jam lebih perjalanan akhirnya kami tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Tak lupa kami sematkan salam dan pelukan kepada teman yang sudah mau kami repotkan untuk mengantar ke Bandara. Kami, (aku dan Ical) berlari ke dalam Bandara untuk check in. Karena itu titik aman pertama menurutku. Jam ku sudah menunjukkan pukul 19.43 WITA kala itu. Alhamdulillah, loket check in tidak ada antrian dan kami bisa bernapas lega pada saat itu. Haaaaaaah.. Alhamdulillah…

     Setelah melakukan pengecekkan, kami bergegas ke ruang tunggu. Ruang tunggu sangat ramai kala itu. Beberapa calon penumpang maskapai penerbangan sudah menunggu sejak tadi nampaknya. Wajah mereka sudah nampak beberapa ekspresi. Ada yang bolak-balik didepan pintu menanti pesawat. Ada juga yang sibuk menanyakan keberangkatan mereka kepada Costumer Service maskapai. Dan ada yang sampai tertidur diruang tunggu. Sepertinya mereka lelah untuk menunggu. Aku pun memberanikan diri untuk ngobrol kepada calon penumpang yang duduk disebelahku.

“Mau kemana, Mas?” Tanyaku.

Ke Banjarmasin, Mas. Tapi ini delay pesawatnya. Saya sudah nunggu 2 jam, sampai bingung sendiri mau ngapain lagi.”  Jawabnya.

     Akupun tidak berani komentar. Dan hanya tersenyum mendengar jawabnya. Sepertinya keberangkatanku delay juga. Akupun memainkan keypad virtual layar telfon genggamku. Membalas pesan singkat yang silih berganti masuk ke telfon genggamku. Dan sama, menanyakan keberadaanku dan kepulanganku. Waktu terus berjalan, detik demi detik. Tak sabar menanti pesawat yang akan membawaku pulang. Lagu “Ingin Pulang” dari Sheila on 7 dan “Hanya Ingin Pulang” dari Souljah berputar silih berganti. Semakin tak sabar rasanya pengen segera masuk pesawat dan berangkat ke Jakarta. Dari kejauhan (didepan pintu ruang tunggu), terdengar suara lantang. Ternyata itu suara sang costumer service dengan pengeras suaranya. Aku matikan sejenak aplikasi music yang menyala di telfon genggamku. Ku dengarkan dengan seksama perkataan costumer service. Dan sang costumer service memberitahukan pesawat kami delay sampai pukul 22.20 WITA. Oh God… Sepertinya kami harus bersabar untuk pulang.

 20 November 2013, 21.00 WITA, Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.

“Menunggu itu tidak enak.”

     Ya celotehku ke Ical saat itu. Pikiran kita mulai terpecah dan ga sinkron satu sama lain. Selain dikarenakan delay, pikiran kamipun dipenuhi dengan naiknya ongkos dari bandara ke rumah. Saat itu uang saku kita masing-masing sudah sangat menipis. Kami sudah mulai bosan duduk menunggu diruang tunggu. Tak ada perbekalan asap saat itu. Kamipun mulai berhitung. Gambling. Dan diputuskan untuk membeli perbekalan asap patungan. Sepakat!

     Sedikit bernafas lega, kamipun bergegas ke toko swalayan dan membeli perbekalan. Luput dari pikiran kita. Tidak ada smoking area didalam ruang tunggu. Perdebatan terjadi. Otak sudah ngebul. Mood ancur. Kamipun menanyakan smoking area terdekat kepada petugas. Alhamdulillah, mungkin ini rezeki anak soleh. Bapak petugas mengajak kami ke sebuah restorasi yang menyediakan smoking room dan membiayai kopi kami! Wihiiiiiii… Senyum sumringahlah kami berdua. Terima kasih, Pak!

     Sebatang demi sebatang tembakau sudah mulai habis terbakar dan berubah menjadi abu. 22.15 WITA jam ku sudah menunjukan. Kami bergegas kembali ke ruang tunggu. Pesawat kami sudah tersedia ternyata. Kamipun bergegas masuk ke kabin pesawat. See you soon, Bali! Jakarta, I’m comiiiiiiiing :’3

21 November 2013, 00.15 WIB, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

“Terima kasih sudah mempercayai maskapai kami untuk perjalanan anda.” Sautan pramugari diiringi senyumannya.

Senyumku membalasnya.

     Alhamdulillah sampai juga di Soetta. Welcome back, Mas! Perjalananku dari Bali menuju Jakarta memakan waktu hampir 1 jam. Setelah mengambil barang yang kami titipkan dibagasi pesawat, kamipun langsung bergegas menuju shelter Damri. Disinilah kami berpisah (sementara). Kami memang tak searah, tapi kami satu tujuan, pulang. Ical pun langsung menaiki Damri yang sudah tersedia menuju tempat tinggalnya. Sementara aku? Masih harus menunggu bus Damri yang menuju tempat tinggalku. Hati sudah mulai gusar. Ga tenang. Apa bus ini yang menuju ke tempat tinggalku masih tersedia? Jam sudah menujukkan pukul 01.00 WIB. Akupun duduk dishelter, sambil mengobrol dengan beberapa calon penumpang Damri ke segala tujuan masing-masing. Setengah jam berlalu, Damri yang menuju ke tujuanku tak kunjung datang. Makin ga tenang. Kenapa? 1. Karena aku ingin cepat sampai rumah, 2. Uang ku tak cukup kalau harus membayar taksi sampai ke rumah. Ku ambil nafas panjang dan dengan uang sebesar Rp.50.000 disaku ku, aku berjalan ke salah satu shelter taksi. Aku putuskan untuk naik taksi saja daripada harus tidur di bandara. Ongkosnya bisa aku bayar dirumah, pikirku. Nama ku sudah di antrikan di nomor 8. Sementara sekarang masih antrian nomor 2. Hmm.. masih harus menunggu sepertinya, baiklah…

    Ku berdiri sambil memperhatikan setiap bus Damri masuk ke jalur shelter, berharap ada yang menuju ke arah tempat tinggalku. Tak lama berselang, ada seorang calon penumpang berteriak,

“Itu Tg.Priuk tuh..” Sautnya.

“Yang bener, Mas?” Balasku.

“Iya, itu ada tulisannya tuh…” Sautnya lagi.

“Baiklah.. Makasih, Mas…” Balasku dengan senyuman.

     Ya memang saat itu bus Damri masih agak jauh posisinya dari tempatku berdiri, jadi mungkin tidak terlihat tulisan tujuannya. Akupun bergegas berlari menghampiri bus tersebut. Alhamdulillah ternyata benaaaar ke arah tempat tinggalku. Aaah masih rezeki ku ternyata ini. Tanpa pikir panjang, aku langsung naik ke dalam bus dan bersiap menuju rumah. Satu jam perjalanan dari bandara menuju rumahku. Seseorang sudah menantiku sejak tadi dibalik suara telfon. Yes, dia kekasihku. Dia menantiku pulang sampai tertidur-tidur. Thank you, dear J

21 November 2013, 02.30 WIB, Kediaman H.Achmad Supardjo, Jakarta.

“Sebuah gubug sederhana yang selalu ku rindukan ketika aku pergi.”

     Alhamdulillah.. tiba juga diujung jalan setapak menuju rumahku…

“Assalamualaikum…” Salamku.

“Waalaikumsalam..” Jawab ibuku

“Adeee…?” Lanjutnya.

     Beliau sudah menantiku diruang tamu ternyata. Pelukan hangat langsung hinggap ditubuhnya. Dan sebuah kecupan bersemayam dikeningnya. Ritual yang sudah pasti dilakukan ketika aku pulang. Disusul Ayah dan Kakak ku yang menyambut ku pulang. Alhamdulillah…

IMG_3377

IMG_3361

Inilah mereka, yang menantiku pulang ketika aku sedang dalam perjalanan misiku.
 

Pulang selalu menjadi tujuan utama dalam misi perjalananku. Pulang merupakan kembali pada langkah pertamaku bepergian. Pulang selalu menjadi rindu ketika aku bepergian.

Salam pejalan, Muhammad Julindra.

 

One thought on “Menantikan Pulang

  1. Pingback: #NubieTraveller Monthly Blog Competition: “Pulang” | TravellersID

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s