Mr. Last Minutes

paint

Disebuah lantai dasar gedung bertingkat aku menunggu dengan perasaan gundah, takjub, campur aduk. Sulit untuk diekspresikan. Ku pandangi jam tangan bewarna hijau army yang melekat gagah ditangan kanan ku. Detik demi detik berlalu begitu saja. Perasaan makin tidak tenang, tapi aku mencoba menenangkan perasaan teman-teman ku yang kala itu menanti pengumuman yang sama sepertiku. Selang beberapa saat, namaku dipanggil dan langsung menuju ke ruangan audioturium disusul rekan-rekan seperjuanganku. Kala itu kami baru saja melaksanakan sidang untuk studi jenjang sarjana muda. Kata demi kata yang keluar dari pengeras suara hanya membuat perasaan makin tak tenang. Panitia sidang sedang memberikan sambutan. Lidahnya sangat lihai dalam mengolah kata-kata menjadi sebuah prolog. Sampai dipenghujung sambutan, beliau memberikan selamat kepada kami karena telah lulus dan selesai studi untuk jenjang sarjana muda. Alhamdulillah. Kalimat syukur yang spontan keluar dari mulutku🙂

Perasaan yang tidak tenang sebelumnya berubah menjadi bahagia, terharu dan takjub. Iya. Aku bahagia, karena aku telah menyelesaikan kewajiban dan tanggung jawabku terhadap kedua orang tua ku. Mereka yang sebelumnya, tidak pernah cape untuk menanyakan “kamu kapan sidang?” Dan mereka juga yang tidak pernah henti untuk mendoakanku.
Aku terharu dan takjub, karena aku tidak menyangka sebelumnya bisa berlari dengan cepat mengejar ketertinggalanku. Kebetulan teman-teman sekelasku saat itu sudah dinyatakan lulus semua, bahkan mereka sudah mendapatkan toga untuk wisuda nanti. Sedangkan aku? Langkahku masih jauh kala itu. Ada pembatas yang harus aku bongkar sedikit demi sedikit untuk melengkapi persyaratan sidang ku. Lantas setelah trip terakhirku dipenghujung tahun 2013, ku ambil ancang-ancang untuk berlari mengejar ketertinggalanku. Ku kesampingkan aktifitas lain ku, termasuk hobby ku. Ku fokuskan diri menyelesaikan akademik. Tak peduli aku rindu akan hobby ku. Aku kesampingkan itu semua. Lebih baik aku kehilangan waktu untuk hobby ku, daripada aku harus ‘menunda’ dan makin jauh tertinggal akademik ku. Tak peduli jarak dari rumah ke kampus. Dan tak peduli juga keadaan cuaca, aku tetap memacu kuda besiku demi sebuah toga perdana ku. Sehari dua hari, sebulan dua bulan akhirnya aku bisa melengkapi persyaratan sidang ku. Perjuangan 2 bulan terkahirku menjadi tidak sia-sia dengan hasil yang ku dapat sekarang. Alhamdulillah🙂

Sebuah perjalanan yang penuh sarat emosi dan makna mengantarkan aku berwisuda bareng teman-teman sekelasku bulan april nanti. Sebuah perjalanan yang mengajarkan aku (sekali lagi) tentang, bagaimana perjuangan disetiap perjalanan. Sebuah perjalanan yang mengajarkan aku untuk terus semangat dan pantang menyerah walaupun sudah ‘agak’ terlambat. Sebuah perjalanan yang memberikan aku pelajaran, bagaimana sebuah tekad berubah menjadi kekuatan. Sebuah perjalanan yang mengajarkan aku, banyak arti kehidupan. Dan sebuah perjalanan yang memberikan aku pelajaran yang sangat sangat sangat bermakna untuk kehidupanku mendatang. Alhamdulillah. Subhanallah aku masih tak percaya bisa melakukannya🙂

Setiap perjalanan, selalu memiliki sensasi dan makna tersendiri. Selama kita yakin, mau berusaha dan pantang menyerah, pasti selalu ada jalan untuk meraihnya.

Jakarta, 2014 | Muhammad Julindra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s