Ironisme Pendaki Gunung Sekarang (Bagian 2)

Mendaki gunung sudah menjadi kegiatan yang sangat lumrah sekarang-sekarang ini, terlebih ketika long weekend tiba, siap-siap gunung menjadi salah satu tempat objek pariwisata bagi kebanyakan orang, berbeda ketika dulu (kira-kira 4 tahun kebelakang), orang beranggapan kegiatan naik gunung merupakan kegiatan sia-sia, buang-buang waktu dan sangat tidak masuk akal. Saya pernah dibilang ‘orang gila’ oleh teman saya karena saya mendaki gunung. Tapi tidak dengan sekarang, mendaki gunung pada waktu libur tiba, merupakan suatu keharusan (bagi beberapa orang).

Saya merupakan salah satu memiliki hobby mendaki. Tapi belakangan, saya sudah jarang, atau yang populer dikatakan ‘vakum’. Ya memang, saya sudah vakum mendaki hampir 1 tahun. Dan begitu saya mencoba melakukannya kembali, saya takjub dengan apa yang saya lihat. Takjub bukan karena jalur pendakian, takjub akan antusiasme teman-teman sekalian untuk melakukan pendakian. Sangat sangat banyak sekali. Well, akhirnya banyak juga teman sependakian saya (gumamku). Sanking banyaknya peminat mendaki sekarang-sekarang ini, sayapun dibuat takjub (lagi) dengan banyaknya teman-teman yang membuka tenda dijalur -yang seharusnya sangat tidak disarankan-. Surprise..
Sayapun agak bingung dan tidak habis pikir akan hal itu, tak mau untuk maksut mengganggu, saya kembali melanjutkan perjalanan menuju pos registrasi untuk lapor selesai mendaki. Dari kejauhan tampak kerumunan teman-teman pendaki. -ya meraka memang harus lapor ke pos registrasi untuk melakukan pendakian- Dan begitu sampai pos, sayapun seakan dibuat takjub kembali dengan apa yang saya lihat disana, berbeda ketika pas saya baru tiba dua hari sebelumnya, basecamp yang tampak luas, penuh sesak, nyaris tidak ada space untuk sekedar menaruh pantat. Meja registrasi penuh antrian para teman-teman calon pendaki untuk melakukan pendakian, Surprise..

Hebohnya antusias kegiatan mendaki belakang ini, membuat saya mencoba untuk menggali informasi tentang teman-teman pendaki lainnya. Mulai dari persiapan mereka, bahkan sampai ilmu yang didapat setelah pendakian. Well, another surprise came to me…
Sedikit saya kasih point tentang apa yang saya dapatkan,
1. Kurangnya edukasi tentang pendakian, yang melainkan berdasarkan foto-foto ‘keren’ disocial media. Sejak film (IYKWIM) dirilis, gunung yang seharusnya menjadi tempat sakral ataupun tenang, berubah layaknya pasar malam. Bahkan yang (maaf) sebelumnya belum pernah naik gunung, tiba-tiba langsung ingin melakukan pendakian, -gapapa mungkin mereka mau mencoba-, akan tetapi yang dicoba ga tanggung-tanggung, langsung melakukan pendakian ke gunung yang difilmkan. Hmm.. Salut.
2. Hilangnya rasa persaudaraan dan tenggang antar sesama (dikira pelajaran PPKN). Kehebohan kegiatan mendaki sekarang ini, berubah menjadi ajang pamer gear dengan segala merk ternama. Ya, seperti itu. berjalan dengan gear serba nyentrik layaknya mau ke mall dan dengan mimik muka yang sangat tidak enak untuk dipandang.
3. Sampah, saya tidak ingin banyak menulis tentang ini, cukup kita tahu diri saja untuk masalah ini.
4. Menganggap semua gunung itu sama. Ya, tidak jauh berbeda dengan poin nomor satu diatas, saya begitu kaget ketika melihat rombongan lain dengan perbekalan seadanya. Waktu itu saya kaget ketika melihat ada rombongan yang hanya membawa air kira-kira hanya 7 liter (tidak sampai 10 liter) untuk 8 orang anggota. Bahkan sampai harus diingatkan oleh penduduk bahwa dengan persediaan air segitu sangat kurang untuk anggota 8 orang dan medan gunung tsb. Sayapun kembali berfikir, apa iya mereka sebelum melakukan pendakian tidak mencari informasi mengenai gunung yang akan mereka daki dahulu? Untuk hal penting seperti ini (read: air) tidak bisa memperkirakan?
Ironisme pendaki gunung sekarang..

Mohon maaf teman-teman, ini hanya tulisan iseng saya. Saya sangat bangga akan antusiasme teman-teman sekarang. Saya hanya ingin menulis tentang apa yang saya dapati. Pesan saya, persiapan sangatlah penting untuk melakukan pendakian. Tetap utamakan keselamatan. Keluargalah alasan utama untuk pulang. Salam pejalan!

Klik disini untuk membaca bagian pertama.

 

 

 

 

 

 

 

 

-Muhammad Julindra-
Penulis merupakan seorang yang memiliki hobby mendaki gunung, dan dapat ditemukan di twitter dengan akun @masjuli.

A few years ago

Sudah lama kayanya ga nyoret-nyoret yah. hehehe

Beberapa minggu terakhir ini, gua lebih sering kembali ke kebiasaan lama gua beberapa tahun lalu, membaca cerita fiksi. Eh bisa dibilang ga fiksi bgt juga sih, kadang beberapa tulisan yg gua baca menurut yang punya nya true heuheuheuheu (peace).
Memang, gua akuin gua suka baca-baca tulisan ataupun artikel. Ya entah apa aja ya, yg penting ga berbau politik. Minta gua masih agak kurang sama bacaan yg berbabu politik. Nope. Makanya gua lebih suka baca novel fiksi, atau artikel-artikel lainnya.
Balik lagi ke novel fiksi, kenapa? Karena gua lagi bosen aja baca-baca pemberitaan media yg hanya bahas satu topik teruuuuuus, begitu ada topik baru, hilang begitu aja blas ga ada berita, gitu aja terus sampe badak pacaran sama kecoa. Yaudah lu bayangin aja deh tuh ya badak sama kecoa kalo pacaran kaya gimana.
Gua pun coba ngubek-ngubek kaskus lagi, tentang stories from the heart. Hai, hello.. walaupun gua silent rider, gua ttp ngikutin beberapa cerita dari kalian loh. Karena seru aja balik ke masa abg ye kan, trus lu bayangin jadi salah satu tokoh dari cerita tersebut sambil peragaan beberapa adegan, ga lupa pake senyum-senyum sendiri. Die! hahahahahaha
Well, ini beberapa cerita yg menurut gua seru buat dipantengin;

Source:
http://www.kaskus.co.id/forum/51

  1. 1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!
    source: Klik
  2. The ‘X’ boss
    source: Klik
  3. If it means a lot to you
    source: Klik
  4. You are fat, but i love you
    source: Klik
  5. Mbak, Aku tidak pernah sebahagia ini
    source: Klik
  6. A Memoir of Love and Lunacy, From The Other Side.
    source: Klik
  7. Accidentally In Love
    source: Klik

Satu cerita yg paling menarik dan ga pernah bosen gua baca adalah, Love, Lie, Lust and Lunacy, Klik! Addicted bgt ceritanya. Walaupun udah lama dan berulang gua baca, ttp aja seru dan gua masih kebayang sosok Vanya. HAHAHAHA

Sebenernya masih banyak cerita lainnya, tapi berhubung banyak lu cari sendiri yak cerita lainnya. Heuheuheu *salim*

 

 

Tips Ngetrip Hore

Travelling,

-atau jalan-jalan- menjadi tren hobi sudah cukup lama. Selain untuk menghilangkan penat pikiran sejenak, terkadang dengan travelling kita dapat menambah teman bahkan wawasan. Belakangan ini, travelling -entah domestik atau luar negri- sudah didukung dengan adanya ‘tiket murah’. Mulai dari tiket murah pesawat ataupun subsidi tiket kereta api dari pemerintah. Kalau ditanya apakah gua mau membahas kalkulasi perhitungan mereka, maka gua jawab TIDAK. Bukannya tidak peduli, tapi bukan wewenang wawasan gua untuk menjawabnya. Disini gua mau membahas ataupun sekedar sharing bagaimana tips ngetrip hore yang seperti biasa gua lakuin.  Continue reading

A place I called Home

Rumah-Joglo

Raga ku mungkin ada disini, tetapi tidak dengan jiwa ku.

Sebuah perumpaan yang pas untuk saya sekarang ini. Saya seorang karyawan swasta di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang IT. Menginggalkan (hampir) kegiatan outdoor yang sebelumnya sudah saya laksanakan dan berganti  menikmati hari-hari sebagai karyawan dibalik ‘layar’ desktop, dengan ruangan ACm merupakan salah satu impian semua orang, tak terkecuali saya. Menikmati karyawan ‘kantoran’ dengan berpakaian rapi seperti eksekutif muda-dengan kemeja, celana bahan dan sepatu pantovel-terlihat elegan untuk dipandang. Tak hanya diriku sendiri yang melihat, mungkin orang disekitar ku melihat demikian. Continue reading

Mesin Waktu

image

Selamat pagi. Mari kita sedikit mengulang kembali waktu-waktu sebelumnya.
Tenang. Ini bukan mesin waktu dalam film kartun yang bisa kembali diwaktu tsb secara langsung. Ini hanya mengulang kembali memori beberapa waktu silam. Continue reading

Mr. Last Minutes

paint

Disebuah lantai dasar gedung bertingkat aku menunggu dengan perasaan gundah, takjub, campur aduk. Sulit untuk diekspresikan. Ku pandangi jam tangan bewarna hijau army yang melekat gagah ditangan kanan ku. Detik demi detik berlalu begitu saja. Perasaan makin tidak tenang, tapi aku mencoba menenangkan perasaan teman-teman ku yang kala itu menanti pengumuman yang sama sepertiku. Continue reading