Menantikan Pulang

20 November 2013, 06.30 WITA, Bali.

“Setiap perjalanan selalu memiliki tujuan. Dan tujuan utama ku dalam setiap perjalanan adalah Pulang.”

     Akhirnya, waktu yang dinantikan tiba, setelah serangkaian perjalananku bulan ini. Sudah tak sabar rasanya menyambut Ibu Kota pada saat itu. Bertemu (kembali) dengan keluarga dirumah, teman-teman dan juga kekasih. Merekapun sudah tak sabar untuk menyambutku dirumah. Bunyi notifikasi telfon genggam ku seraya sedang memainkan parade music. Continue reading

Advertisements

Ironisme Pendaki Gunung Sekarang

Mendaki gunung adalah kegiatan yang menyenangkan sekaligus menengangkan, dibutuhkan banyak persiapan secara fisik dan mental. Mendaki gunung tidaklah mudah, seseorang harus mempunyai disiplin ilmu serta fisik yang memadai. Kegiatan ini diminati oleh siapa saja, semua kalangan yang mempunyai jiwa berpetualang dan kesadaran tinggi atas hakikat manusia terhadap alam, mengukur seberapa jauh kemampuan diri sendiri. Mendaki gunung selalu menjadi sarana melepas emosi, merendahkan hati terhadap tuhan sang pencipta alam, membuang sifat angkuh dan sombong, memperkuat kerjasama tim sesama pendaki serta membuat manusia sadar secara naluriah.

Seseorang yang ingin mendaki gunung harus tau betul persiapan apa yang harus dipenuhi sebelum mulai mendaki, mulai dari : kesiapan mental dan fisik, pengetahuan tentang alam, manajemen emosi, kerjasama tim, dan sebagainya yang menunjang kegiatan alam. Disiplin adalah hal yang sangat essensial dalam mendaki, seseorang yang tidak disiplin secara mental tentu akan menyusahkan diri sendiri atau kelompoknya. Disiplin tentunya juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sampai hal yang terkecil sekalipun. Karena itu lahirlah sebuah kode etik pemuda pencinta alam se-Indonesia yang sadar bahwa alam raya ini adalah tanggung jawab kita sebagai manusia kepada tuhan, bangsa dan tanah air.

Dahulu olahraga ini hanya diminati oleh sebagian orang saja, karena alasan diatas tadi. Sekarang siapa saja bisa menikmati olahraga ini bahkan orang yang tidak tau aturan sekalipun. Kita sekarang banyak menemukan sampah berserakan, coretan yang menggunakan bahan permanen dan perilaku jahil para pendaki. Bahkan gunung kini pun dijadikan sarana bisnis bagi warga penduduk setempat sebagai porter mungkin ini salah satu dampak positifnya. Beberapa bulan lalu sebelum saya membuat tulisan ini, muncul film lokal yang berbasis novel tentang pendakian yang banyak dikritik para pencinta alam. Karenanya banyak korban kelabilan dari film tersebut, mendengar cerita dari penjaga pos beberapa gunung secara langsung dan lewat forum, katanya :“dengan entengnya pemuda dan pemudi labil bermental feodal masuk gunung tanpa aturan karena terpengaruh romantisme film tersebut. Dengan barang bawaan seadanya tanpa perencanaan mereka menyewa porter lalu mendaki, pada akhirnya beberapa dari mereka banyak yang celaka.” Begitulah kabar yang beredar, kita tidak bisa juga menyalahkan film (realitas yang dibuat tanpa konsep alami) akan tetapi dari para individu masing-masing. Sekali lagi perlu disadari bahwa gunung adalah tempat kehidupan alami dari banyak makhluk hidup yang ada di dalamnya, Alam raya mesti dijaga dan dilestarikan. kritik ini bukan secara objektif menyudutkan film tersebut akan tetapi lebih kepada mental individu pendaki.

Ironisnya budaya seperti ini tidak hanya terjadi di gunung saja, namun kita lihat kehidupan masyarakat kita yang semerawut tanpa aturan. Hal sederhana ini mencerminkan pola kehidupan yang sebenarnya dari masyarakat kita. Padahal dahulu kala orang timur adalah bangsa-bangsa yang paling menghargai alam. Dalam setiap aktivitas yang kita lakukan pasti berhubungan dengan seni agar keasliannya tetap terjaga secara natural dan segala aturan yang melekat pada objeknya, begitu juga mendaki gunung, diperlukan pemahaman akan seni mendaki. Bagaimana menciptakan aturan main tersendiri berdasarkan hakikat kita sebagai manusia sesungguhnya yang membaur dengan alam. begitulah kondisi gunung sekarang dan kedepannya apabila manusia tidak punya aturan dan sikap menjaganya. tentunya kita berharap agar terciptanya kesadaran dalam kegiatan apapun.

Dengan adanya tulisan yang singkat ini penulis berharap para pendaki kemudian menyadari dan menghormati tata kehidupan yang ada pada alam sekitar bukan hanya di gunung saja ! karena sejatinya kehidupan di alam bebas seharusnya membuat manusia rendah hati terhadap sang pencipta, tempat membuang mental sombong dan angkuh. Sekali lagi, manusia menjadi salah satu faktor penentu bagaima alam kita kedepannya. “Jagalah alam maka alam akan menjagamu.”

 

– Audi Muslim

Beda itu…. ‘Kita’

Apa kita bisa menjadi ‘kita’? Iya, Kita…
Dua pemikiran, dua jiwa yang jadi satu.
Diantara asa-asa yg sudah ada, yang sudah kita ciptakan, bersama.

Apa kita bisa menjadi ‘kita’?
Dua hati yang saling terjaga, menjaga ketulusan diantaranya.

Apa kita bisa menjadi ‘kita’?
Dua sisi yang saling bersinergi, lebih dari sekedar saling berbagi.

Apa kita bisa menjadi ‘kita’?
Dua cakrawala yang saling bersinar, lebih dari sekedar saling menerangi.

Apa kita bisa menjadi ‘kita’?
Dua arah angin saling terhubung, lebih dari sekedar Timur dan Barat.

Apa kita bisa menjadi ‘kita’? Iya, Kita..
Dengan segala perbedaan kita. Pada hembusan angin aku mengadu.

Apa kita bisa menjadi ‘kita’? Iya, Kita…
Entahlah… 
Pelangi pun tetap nampak indah walau terdapat “perbedaan” diantaranya. 
Dan beda itu, 'Kita' :')

Sepucuk Surat

Seuntai kertas berselimutkan tinta hitam, 
tersusun kata-kata manis yang terucap darimu, dulu.

Apa kabar mu, Cinta?
Tak pelak rindu direlung hatiku.
Apakah kau tersenyum disana?
Aku harap demikian.
Imajinasi ku bergejolak,
Seakan dirimu ada disini, disampingku, begitu dekat.
Tak hayal kita pun saling balas senyum.
Apakah kau merasakannya, Kasih?
Aku rindu sosokmu.
Hingar bingar serangga malam seakan lenyap diterpa haru rindu.

Bulu kuduk ku pun berdiri,
seraya aku ersadar dan menyadari dirimu telah pergi dan tiada.
Tenanglah kau disana. Teruntukmu, Radiva :')

Sautan Dalam Aksara

–          Mari kita berbincang tentang harapan yang tak tersampaikan tentang sunyi ditengah hingar bingar…

–          Harapan yang masih bisa terang seperti rembulan kah? Atau harapan yg meredup seperti lilin melebur? Rembulan bersinar seperti harapan. Bintang berkilau seperti pantulan harapan. Akan kah pantulan tersebut menjadi cahaya? Cahaya yg terang berirama dengan lantunan senyum diwajah. Wahai rembulan.. dinginmu menusuk ke tulang seakan kehangatan tak pernah datang.

–          Harapan adalah salah satunya senjata kasat mata, dapat membunuh atau diunuh, membunuh dikala terang saat awal, dibunuh ketika redup sebelum terang. Tenanglah, ada energy yg tak terkorosi diantara harapan-harapan. Seperti lilin yg didatangi api, menjadikan mereka cahaya yg diam-diam setia menerangi.

–          Harapan adalah doa. Senjata yg paling ampuh saat jarak memisahkan satu sama lain. Seperti emubn yang diam-diam memeluk dikala pagi.

–          Jangan terlalu cepat menghakimi bintang dan bulan yg hidup diantara gravitasi, ada hokum kekal diantara mereka, dimana cahaya salah satunya alas an mereka ada. Siluet senyum merupakan keharusan bagi keduanya walaupun kerap keduanya dipisahkan oleh gravitasi, bahagia kah mereka? Entah, terkadang tidak semua kita dapat pahami dengan hanya sekilas menyelami. Namun, yg kita pahami mereka tetap setia mendampingi.

–          Apakah cahaya malam akan redup bersama sebuah harapan? Harapan terang yg sempat muncul diawal.. Atau akan meredup diakhir sebelum berkilau…

–          Dalam galaksi tidak ada yg abadi, seperti bintang yg menjadi gugusan kemudian merasuk ke dalam abu. Harapan? Kau mempertanyakan tentang harapan kepada cahaya dalam malam? Tidak kah kau tau, malam menjadi tegar dalam kelam karna cahaya? Ketika malam melewati gigil pilu dalam segala gulita, seiapa yg dalam diam menyelimutinya dalam kehangatan? Cahaya. Keduanya saling melengkapi, menemani di dalam harapan-harapan yg berhembus seperti kerlip kunang-kunang disela ketiadaan, keduanya saling terus menemani, melengkapi, apakah mereka saling memiliki? Entahlah.. lagi-lagi aku tak berani menghakimi.

–          Cahaya bulan mulai turun perlahan, bintang yg berkilau seakan pergi meninggalkannya, mengantarkan harapan pada kehangatan sang surya.. Akan kah kehangatan sang surya mampu melelehkan pilu dalam gulita? Diriku terdiam, seakan embun pagi memelukku dengan erat, begitu dekat, hingga ku membeku pada satu harapan. Ya.. lagi-lagi harapan yang belum mampu mencair menjadi satu.

–          Bimbangkah kau? Harus dimana kau menyambut harapan-harapan yg membeku seiring jalannya waktu? Ketidakpercayaanmu pada mentari dan ekspetasimu pada bintang yg telah pergi. Semua pendugaanmu yg kau terperosok anomali, percayalah, titipkan gugusan harapanmu pada satu cahaya, sampai kau menyadari satu hal yg pasti. Takut kah kau?

–          Kebimbanganku terletak pada keraguanku akan kemana angin berhembus. Berhembus kencang dan tak beraturan, layaknya tak memiliki tujuan. Ketakutanku terletak pada kekhawatiranku akan dibawa kemana harapan ku oleh sang angin? Akan kah kau tau, kemana angin berhembus?

–          Jangan tanyakan padaku, tanyakanlah pada angin yg sedari tadi membuatmu takut dan bimbang, kepastian adalah garis pemisah antara asa (harapan) dan realita. Kamu pilih mana? Bersembunyi dibalik ketakutan pada angin atau kamu pastikan sendiri garis akhirnya seperti apa? Beranalogi dengan kau memilih hidup hanya berpegangan asa atau tertatih dalam realita?

–          Angin menjawab seolah tak tampak. Seakan asa dan realita disembunyikan dalam kebimbangan. Lantas garis akhir seperti apa yg ku temui? Entahlah.. sampai saat ini pun aku masih berdiri diantara kebinalan hembusan angin yg seakan tak pernah lelah menerpa ku, sampai sang fajar seakan terlewatkan olehnya. Dan aku masih berdiri, menopang asa bersama baying-bayang ilusi.

–          Sampai kapan kau terus menanti? Atas kejelasan dari keabu-abuan asa angin yg menghinggapi? Jangan terlalu lama berdiri diantara nadir sendiri, aku takut kamu benar anomali..

–          Entahlah… Mungkin sampai saat sang pemimpi mampu terbangun dari tidur panjangnya. Atau sampai saat sang batu dapat hancur oleh sapaan sang air, bahkan mungkin sampai saat sang air dapat meyatu dengan sang minyak pekat :’)

–          Adalah Sirius.. Dialah bintang terterang digalaksi, tangannya hangat senyumnya pekat, mereka bilang dia penyembuh dikala hati gaduh, dia terlindungi gravitasi bahwa yang menghampiri hanya mereka yang merasa sunyi, semoda dia dapat menemanimu dikala hatimu hari biru, dan kau dapat pergi dikala sakitmu digrogoti waktu, Sirius itu aku, tenanglah kamu 🙂

Sautan dalam Aksara…

– Muhammad Julindra & Onny Irmayani

Pelukan Dikala Rembulan

Rembulan nan elok terlihat dilangit malam.

Bintang kecil menari-nari dengan luwesnya.

Dan dinginnya malam seakan sirna ditelannya.

Pernah kah kita seperti ini sebelumnya?

Seperti rembulan dan bintang yang akan menemani malam?

Mulut kita seakan bisu,

tapi tidak dengan hati yang bisa berucap walaupun tak terdengar.

Mata kita seakan buta,

tapi tidak dengan hati yang bisa melihat walaupun tak tampak.

Dan telinga seakan tuli,

tapi tidak dengan hati yang selalu mendengarkan resahannya.

Kita begitu dekat, namun tak dapat menyatu.

Kita begitu tampak, namun tak terlihat.

– Muhammad Julindra