Mesin Waktu

image

Selamat pagi. Mari kita sedikit mengulang kembali waktu-waktu sebelumnya.
Tenang. Ini bukan mesin waktu dalam film kartun yang bisa kembali diwaktu tsb secara langsung. Ini hanya mengulang kembali memori beberapa waktu silam.
Memori yg pastinya selalu melekat dipikiran. Dan tergambar secara jelas di dalam otak.
Sebuah mesin waktu yang menceritakan sesosok lelaki pekerja keras, berjiwa pemimpin dan tentunya sangat sangat penyabar diakhir tahun 90an. Beliau seorang tamatan STM pada masanya. Beliaupun tidak berkecil hati akan gelarnya tsb. Yang beliau tahu, hanya bagaimana beliau bisa menafkahi keluarganya kala itu. Beliaupun tidak mau tinggal diam dirumah, duduk santai-walaupun istrinya bekerja juga saat itu- yg dia tahu, bekerja, bekerja dan terus bekerja. Beliau memiliki 3 orang putra putri. Ketiganya bersekolah semua. Alhasil, ketika semua sedang beraktifitas, maka rumah selalu sepi. Si bontotlah yang selalu pulang lebih awal-karena dia pulang sekolah pukul 12 siang- dan mempersiapkan diri untuk menjemput beliau didepan sebuah gang kecil. Beliau berkerja di daerah Bogor, dan rumahnya di Tg.Priuk. Termasuk jauh bukan jarak tempuhnya? Beliau berangkat pukul 6.30 pagi dan sudah ada jemputan yg menantinya. Jika terlambat? Tentu naik angkutan umum. Senin-jumat dan terkadang sabtupun beliau berkerja jika ada pekerjaan yg blm terselesaikan.
Mesin waktu mengantarkan memori-memori dikala itu. Satu memori yg selalu diingat. Rutinitas menunggu beliau pulang kerja. Iya. Si bontot selalu menunggu beliau pulang kerja didepan sebuah gang kecil. Rapi. Sudah mandi dan memasang muka tersenyum untuknya. Setiap pukul 16.00 si bontot sudah siap. Berdiri sambil memperhatikan setiap mobil ataupun motor berlalu lalang. Sesekali dia menoleh ke arah selatan untuk mengintip apakah mobil jemputannya sudah terlihat? Sekitar pukul 16.15 – 16.30 mobil jemputan pun tiba. Si bontot sudah siap menyambut dengan senyuman. Ketika beliau sudah turun dari mobil jemputan, si bontot langsung menghampiri dan mengulurkan tangannya untuk sebuah salam. Iya. Rutinitas salim kepada beliau. Bukan sesuatu yg mewah, melainkan sesuatu yg sangat sakral (menurutnya). Setelah itu? Beliau pulang dengan si bontot sambil bercerita ttg aktifitasnya menuju ke rumah. Beliau itu adalah Ayah ku. Dan si bontot itu Aku.
Selamat berulang tahun, Ayah. Usiamu tidak lagi muda, otot-ototmu sudah nampak memuai. Sekarang sudah saatnya engkau menikmati hasil bercocok tanam mu. Biarkan kami yg berkerja untuk melengkapi masa-masa tua mu. Semoga engkau selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT agar tetap dapat membimbing ibu, abang, kakak, aku, menantu-menantu mu, cucu-cucu mu dan juga keluarga mu. Aamiiin. Selamat ulang tahun, Ayah..

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s